Bolehkah Turis Masuk Pura di Bali?

Oleh Tim siappergi.com · Terbit · 4 menit baca · Read in English

Bolehkah Turis Masuk Pura di Bali? Aturan & Dress Code

Bolehkah turis masuk pura di Bali? Ya, turis bisa masuk ke sebagian besar pura di Bali, tetapi aturannya lebih ketat daripada di tempat wisata pada umumnya. Banyak pura terbuka untuk pengunjung, sementara beberapa area dalam hanya diperuntukkan bagi umat yang bersembahyang, dan setiap pengunjung diharapkan berpakaian sopan serta mengikuti beberapa adat sederhana.

Pura mana saja yang terbuka untuk turis?

Bali memiliki ribuan pura, mulai dari kuil desa kecil (*pura desa*) hingga pura besar yang dikenal di seluruh dunia. Sebagian besar yang terkenal menerima pengunjung, termasuk Tanah Lot, Uluwatu, Ulun Danu Beratan di Bedugul, Besakih, Tirta Empul, dan Pura Taman Ayun. Masuk ke area-area ini biasanya dilakukan dengan tiket berbayar di gerbang utama, dan jam buka pun berbeda-beda. Karena itu, periksa informasi setempat sebelum berangkat agar tidak kehabisan waktu di perjalanan.

Beberapa pura, atau area tertentu di dalamnya, tertutup untuk non-Hindu atau hanya terbuka bagi orang yang mengikuti upacara. Pura desa khususnya bisa ditutup pada hari-hari keagamaan, dan keputusan ini biasanya diambil oleh desa adat setempat. Jika gerbang terkunci atau ada papan yang meminta Anda tidak masuk, hormati itu dan lanjutkan perjalanan. Tidak ada gunanya memaksa masuk, karena petugas di lapangan berhak menolak akses demi menjaga kekhidmatan upacara.

Jam buka, harga tiket, dan aturan akses ditetapkan oleh masing-masing pura atau desa adat (*desa adat*) dan bisa berubah, terutama saat upacara. Periksa pengumuman dari pura itu sendiri sebelum bepergian, dan anggap informasi di artikel ini sebagai panduan umum, bukan jaminan.

Dress code: aturan sarung dan selendang

Aturan terpenting adalah soal pakaian, dan ini paling sering menjadi alasan pengunjung ditegur atau diminta mengganti pakaian. Di hampir setiap pura Anda akan diminta memakai:

  • Sarung (kain panjang) yang menutupi kaki, di bawah lutut
  • Selendang (*selendang*) yang diikat di pinggang
  • Bahu tertutup, dan tidak memakai pakaian yang terbuka atau ketat

Kebanyakan pura meminjamkan sarung dan selendang di pintu masuk dengan donasi kecil, sehingga Anda tidak wajib membawa sendiri. Namun, membawa sarung sendiri tetap lebih praktis dan lebih higienis, terutama jika Anda berencana mengunjungi beberapa pura dalam satu hari. Sarung katun ringan bisa dilipat menjadi tas kecil dan muat di ransel, sehingga tidak memakan tempat.

Etika praktis di dalam pura

Selain dress code, beberapa kebiasaan kecil akan menjaga kunjungan Anda tetap hormat. Hal-hal ini terasa sepele, tetapi justru sering dianggap pelanggaran oleh umat setempat:

  1. Jaga suara tetap pelan dan hindari musik keras atau berteriak, terutama di area doa.
  2. Jangan memanjat pelinggih, patung, atau tembok, dan jangan menyentuh sesajen.
  3. Lewati sesajen (*canang sari*) di tanah, jangan melangkahinya.
  4. Tanyakan dulu sebelum memotret orang yang sedang berdoa atau mengikuti upacara.
  5. Jangan mengarahkan kaki ke pelinggih atau duduk dengan kaki menghadap ke arahnya.
  6. Lepas alas kaki jika area tertentu memintanya, dan ikuti arahan petugas.

Jika Anda berkunjung saat upacara, penjaga atau petugas pura mungkin meminta Anda meninggalkan area tertentu. Ini wajar, karena upacara adalah bagian inti dari kehidupan keagamaan setempat. Sebaiknya ikuti arahannya tanpa berdebat, dan jika ragu, tanyakan dengan sopan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Daftar periksa sebelum berkunjung

PerlengkapanMengapa penting
Sarung (di bawah lutut)Wajib di hampir semua pura
Selendang / ikat pinggangDikenakan di pinggang di atas sarung
Bahu tertutupBerlaku untuk pria dan wanita
Uang tunai untuk tiket dan donasiTiket dan donasi sering dibayar tunai
Cek jam bukaBeberapa pura tutup saat upacara

Daftar ini bisa dijadikan acuan sebelum berangkat dari hotel. Memeriksa perlengkapan di pagi hari akan menghemat waktu, karena Anda tidak perlu mencari sarung di tengah perjalanan atau kembali ke penginapan.

Cara menuju pura dan merencanakan rute

Pura-pura di Bali tersebar di seluruh pulau, dari pesisir selatan hingga pegunungan di utara, sehingga rencana rute sebaiknya disusun berdasarkan area. Jika ingin mengunjungi beberapa pura dalam sehari, memiliki kendaraan sendiri membuat perjalanan jauh lebih fleksibel, karena Anda bisa berhenti sesuai jadwal upacara atau cuaca.

SiapPergi mengantar skuter dan mobil ke hotel, vila, atau Bandara Ngurah Rai di seluruh Bali daratan, dengan harga katalog tetap mulai Rp70.000 per hari untuk skuter dan Rp310.000 per hari untuk mobil. Setiap skuter sudah termasuk 2 helm, dan pengantaran serta penjemputan tidak dikenakan biaya tambahan. Kunjungi sewa skuter di Bali atau sewa mobil di Bali untuk membandingkan pilihan, atau lihat cara memesan jika Anda sudah siap.

  • Pura di selatan seperti Uluwatu mudah dijangkau dari sewa skuter Uluwatu atau Jimbaran.
  • Pura di tengah dan pegunungan, seperti yang berada di sekitar Ubud, tercakup dari Ubud.
  • Untuk rute yang lebih panjang dengan sopir, lihat juga sewa mobil di Bali dan pilih area yang sesuai dengan rencana Anda.

Memesan sewa dan pembayaran

SiapPergi tidak meminta deposit, tidak menahan paspor atau KTP Anda (dokumen hanya ditunjukkan bersama SIM saat serah terima), dan pembayaran dilakukan dalam Rupiah ketika kendaraan tiba. Tidak ada pembayaran online di muka. Pemesanan dilakukan lewat WhatsApp di +6281808001102 (07.00–23.00 WITA), dalam bahasa Inggris atau Indonesia, dengan mengirim model, tanggal, dan alamat pengantaran. Tim akan mengonfirmasi ketersediaan sebelum kendaraan diantar ke lokasi Anda.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah saya harus beragama Hindu untuk masuk pura? Umumnya tidak, karena banyak pura terbuka untuk pengunjung umum. Namun, beberapa area di dalamnya hanya untuk umat yang bersembahyang. Ikuti papan dan instruksi petugas, dan jangan masuk ke area yang dilarang.

Bolehkah saya memotret? Sebagian besar pura mengizinkan foto di area umum, tetapi tanyakan dulu sebelum memotret orang yang berdoa dan hindari mengganggu upacara. Beberapa pura juga membatasi penggunaan drone atau tripod, jadi periksa aturan di gerbang.

Bagaimana jika saya lupa membawa sarung? Kebanyakan pura menyewakan atau meminjamkan sarung di pintu masuk dengan donasi kecil, sehingga Anda tetap bisa masuk dengan pakaian yang sesuai.

Siapa yang menentukan aturan masuk pura? Aturan ditetapkan oleh masing-masing pura dan desa adat setempat, dengan dukungan pemerintah daerah di bidang pariwisata. Karena itu, aturan dapat berbeda dari satu pura ke pura lain, dan bisa berubah sewaktu-waktu.

Aturan dan pengaturan masuk bisa berubah, jadi konfirmasi detail terkini dengan masing-masing pura atau pihak berwenang setempat sebelum perjalanan Anda.

Siap sewa motor atau mobil?

Harga katalog pasti, diantar ke hotel atau villa. Pesan lewat WhatsApp dan bayar saat kendaraan tiba.

Artikel ini mengikuti kebijakan redaksi SiapPergi: fakta diperiksa, harga pasar ditulis sebagai kisaran dan kesalahan diperbaiki.

Chat siappergi.com